7 Orang Ini Sukses Dengan Bermodal Laptop dan Koneksi Internet Saja

7 Orang Ini Sukses Dengan Bermodal Laptop dan Koneksi Internet Saja

Seperti babak hidup yang terus berevolusi, jalan mengarah ke kesuksesan juga berubah seiring pertumbuhan teknologi. Dahulu berhasil berarti kerja di perusahaan ternama, gunakan baju apik setiap hari, memakai mobil keluaran teranyar untuk menerobos kemacetan yang makin gila.

Tapi sekarang ada generasi berhasil baru yang tercipta.

Mereka yang tidak perlu sulit payah pergi ke kantor di tengah kemacetan masing-masing harinya. Mereka yang membuat kesuksesan yang sama dengan bermodal laptop dan koneksi internet yang tersedia.

menurut sedayubet Orang-orang ini ialah generasi berhasil baru yang dapat memanfaatkan peluang yang ada. Jika mereka bisa, tidakkah kamu hendak mengikuti tahapan serupa?

7 Orang Ini Sukses Dengan Bermodal Laptop dan Koneksi Internet Saja
7 Orang Ini Sukses Dengan Bermodal Laptop dan Koneksi Internet Saja

1. Kita sering memakai Instagram dan Twitter guna sekadar narsis saja. Tapi Elle dan Jess cerdik memanfaatkan social media dan menciptakan online shop pakaian mereka jadi yang sangat laris di Indonesia

Elle dan Jess Yamada ialah 2 gadis remaja biasa yang gemar selfie dengan outfit terkeren kemudian membagikannya ke sosial media. Kegemaran ini kesudahannya menginspirasi Elle dan Jess untuk mengawali bisnis online shop mereka, Gowigasa.

Berbeda dengan bisnis online shop beda yang melulu mengandalkan gambar produk biasa, Elle dan Jess malah jadi model guna barang yang ditawarkannya. Penampilan Elle dan Jess yang apik, pengabadian gambar dengan angle dan komposisi gambar yang unik menciptakan produk yang ditawarkan Elle dan Jess kian menarik. Elle dan Jess mengunggah potret mereka ke sekian banyak channel media sosial. Mulai dari blog pribadi, Instagram, Twitter, dan akun Youtube mereka.

Kreativitas dan kedekatan personal yang di bina oleh Elle dan Jess pada konsumen menciptakan online shop mereka tumbuh pesat. Tidak hanya sukses generate sales dalam jumlah tinggi, Elle dan Jess juga jadi kiblat fashion anak muda kekinian. Their cuteness does affect everyone…

2. Percaya akan masa mendatang e-commerce menciptakan Achmad Zaky ngotot mengembangkan Bukalapak yang sempat di anggap orang sebelah mata. Kenyataannya sekarang Bukalapak dalam perjalanan menjadi raksasa

Lulus dari ITB yang notabene universitas ternama menciptakan Achmad Zaky diinginkan dapat bekerja di korporasi kemudian hidup mapan seperti teman sejawat kebanyakan. Namun Zacky yang pun CEO Bukalapak malah mengambil jalan berbeda. Berbekal pengalamannya semasa mahasiswa, Zacky menyaksikan bahwa pasar e-commerce masih belum dikerjakan di Indonesia — pasar ini akan dapat menghasilkan deviden jika dikerjakan secara serius.

“Saya ngotot mengembangkan Bukalapak. Setiap hari, bahkan ketika weekend, kami mengulik Bukalapak di garasi kecil kami di Jakarta Selatan. Di mula perjalanan tidak sedikit orang menyangsikan keberhasilan usaha ini. Ide untuk menyerahkan wadah untuk pedagang kecil dirasakan absurd, karena pengusaha kecil dirasa tidak bakal berkembang.”

Tapi Zacky tetap gigih pada pendiriannya. Ia meneliti bahwa pengusaha kecil malah terus tumbuh subur, terlepas dari situasi ekonomi ketika itu. Mereka melulu butuk lokasi yang dapat mewadahi, supaya transaksi dan interaksi dengan konsumen tetap terjadi. Bukalapak juga dikembangkannya menjadi market place terintegrasi yang nyaman untuk pelapak dan pembeli, dengan sistem pembayaran yang aman pula.

Kegigihan Zacky juga akhirnya terbayar. Kini Bukalapak menjadi di antara startup e-commerce sangat berkembang di Indonesia dengan jumlah pelapak yang kian bertambah.

3. Berangkat dari kekesalan sebab jarangnya tas kamera lokal berkualitas, Ihsanudin Fanani malah mengubah suasana dan mengantungi deviden 40-50 juta per bulan

Pada tahun 2011 Ihsanudin Fanani yang sedang gemar-gemarnya menggeluti bisnis fotografi menyadari, ternyata di pasaran amat jarang dapat ia temukan tas kamera berbobot | berbobot | berkualitas dengan harga murah. Demi memuat photography gears nya Ihsanudin mesti melakukan pembelian tas kamera impor yang nominal harganya lumayan membelalakkan mata.

Kesal akan situasi ini, Ihsanudin menyimpulkan menghubungi saudaranya yang mempunyai usaha konveksi tas kecil-kecilan dan memberikan misal model tas kamera yang diinginkannya. Tak disangka, satu tas kamera yang dibuatnya unik perhatian rekan-rekan fotografer lain. Demi memenuhi kemauan rekan-rekan sesama penggiat fotografi, Ihsanudin memutuskan menciptakan lebih tidak sedikit tas dan memasarkannya secara online lewat blog dan Facebook pribadinya.

“Pada tahun 2012 seorang sahabat menyarankan saya mengupayakan berjualan lewat Bukalapak. Setelah mengerjakan riset kecil-kecilan saya merasa Bukalapak menawarkan sistem yang aman dan menguntungkan baik untuk penjual dan pembeli, sampai-sampai menghindarkan dari jual-beli palsu. Alhamdulillah sekitar 4 tahun ini deviden dari berjualan di Bukalapak lumayan menguntungkan, omsetnya dapat mencapai 40-50 juta per bulan.”

4. Chief Technology Officer Nulisbuku, Ollie Halimatussaidah, berhasil mewujudkan khayalan untuk jadi pengarang sekaligus menggawangi self publishing kesatu di Indonesia

Menjadi pengarang memang suatu profesi yang tersiar seksi. Tapi di sisi lain pun terkenal dengan tabungan yang tak begitu tidak jarang terisi. Ollie, begitu ia biasa disapa hendak mendobrak stigma ini. Ia memilih masuk jurusan IT semasa kuliah, karena gatal hendak menciptakan situs terbaik di Indonesia.

Lulus kuliah Ollie sempat menjadi web pengembang di suatu perusahaan sebelum mengawali startup toko kitab online kesatunya yang diberi nama kutubuku.com . Keberhasilannya mengembangkan startup kutubuku menggerakkan Ollie mengembangkan startup selanjutnya, yakni self publishing kesatu di Indonesia.

“Memulai bisnis dengan berbekal kepercayaan dan pengetahuan soal teknologi memaksa saya melakukan tidak sedikit networking dengan orang yang dirasakan tepat. Twitter dan Linkedin tidak sedikit membantu saya untuk mengejar mereka. Dan sekarang, saya dapat mengatakan bahwa Nulisbuku ialah pelopor self publishing di Indonesia.”

5. Pernah mendapatkan empiris buruk saat melakukan pembelian barang secara online, Sigit Nurdansyah justeru memilih terbit dari kegiatan demi menekuni bisnis onlinenya

“Tahun 2010 saya mencoba melakukan pembelian sepeda secara online. Bukannya menemukan barang yang diharapkan, malah uang yang saya transfer hilang entah ke mana. Saat tersebut saya berpikir, apakah bisnis online tentu melibatkan penipuan semacam ini? Dari situ ketertarikan guna menggeluti bisnis online mulai muncul.”

Nurdyansah ialah salah satu pelapak berhasil di BukaLapak yang sukses mengantungi deviden paling tidak 200 juta masing-masing bulan dari bisnis aksesoris gadget premium yang digelutinya. Bisnis online yang digelutinya semenjak Februari 2012 kemudian ini bahkan menyatukan tekad Nurdyansah untuk terbit dari pekerjaannya di perusahaan demi menjadi saudagar online purna waktu.

Setiap hari sekarang Nurdansyah sukses bisa melayani minimal 30 transaksi per hari, yang datang dari sekian banyak penjuru Indonesia. Responnya yang cepat pada pelanggan menciptakan lapak Nurdansyah mendapat keyakinan dari konsumen. Pernah jadi korban penipuan dari jual beli online malah membuat Nurdansyah menjadi top seller di BukaLapak.

6. Waktu anda terjebak pada kemalasan hunting buku, Arief Mai Rakhman lihai menggunakannya sebagai peluang untuk keberhasilan Deltabuku

Arief Mai Rakhman yang biasa dipanggil Arief ialah pria biasa yang gemar membaca. Arief menyatakan membaca kitab fisik memberikannya empiris yang bertolak belakang dibanding memelototi layar demi menyimak dalam bentuk digital. Berdomosili di Yogyakarta yang notabene punya tidak sedikit pilihan toko kitab murah, hunting kitab jadi pekerjaan yang sering dilakukannya.

“Saya menyaksikan mahasiswa sering kendala menemukan buku-buku spesifik yang diperlukan dalam proses kuliah atau pengerjaan tugas. Memang, sejumlah buku tidak dengan mudah dapat ditemukan di toko buku. Kita mesti hunting ke penyalur atau bahkan penerbit. Nah, di sini saya menyaksikan peluang bisnis.”

Berangkat dari pemikiran ini Arief mengembangkan usaha jual kitab online di BukaLapak yang ia namai Deltabuku. Berbeda dari toko kitab online beda yang tidak sedikit ada, Arief menawarkan layanan mencarikan buku-buku spesifik yang dapat ia dapatkan melewati koneksinya ke penyalur dan penerbit. Usahanya di BukaLapak yang sekarang sudah berlangsung 3 tahun sudah dapat memberinya omset 60 juta per bulan.

7. Diajeng Lestari memimpin kompetisi e-store fashion islami lewat HijUp yang ia kembangkan sepenuh hati

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia ialah pasar yang seksi untuk penjaja aksesoris dan fashion muslimah. Kesempatan berikut yang dipungut dan dimanfaatkan oleh Diajeng Lestari, alumnus FISIP UI yang pun istri dari CEO Bukalapak.

HijUP didirikan pada tahun 2011, dengan konsentrasi pada e commerce business to co costumer yang menawarkan produk fashion muslim lokal dengan opsi barang yang beragam. Sejak didirikan HijUp terus berkembang. Dalam wawancara dengan techinasia HijUp bahkan menuliskan telah menjangkau 1,6 juta pageviews tiap bulannya.

Saat ini Diajeng Lestari dengan HijUpnya telah sukses menggandeng minimal 100 desainer muslim lokal, laksana Dian Pelangi dan Ria Miranda yang kian memperkuat HijUp sebagai pelopor cool and fashionable muslim fashion di Indonesia.

Masih inginkan memanfaatkan laptop dan koneksi internetmu guna meluapkan kegalauan saja sesudah membaca kisah mereka? Tidak inginkah anda mengikuti kesuksesan yang sama?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *